BIPA dan Momentum Kemerdekaan: Bahasa Indonesia untuk Dunia

Oleh : Royani Afriani, M.Pd.
(Kepala Departemen BIPA UPT Bahasa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
Peringatan Hari Kemerdekaan selalu menjadi momen reflektif bagi bangsa Indonesia untuk melihat sejauh mana identitas nasional dijaga, diperkuat, dan diproyeksikan ke masa depan. Salah satu identitas paling penting itu adalah bahasa. Di tengah derasnya arus globalisasi, Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi perekat bangsa, tetapi juga jembatan diplomasi budaya yang semakin mendapat perhatian dunia. Momentum kemerdekaan karenanya menjadi saat yang tepat untuk menegaskan kembali posisi BIPA—Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing—sebagai strategi memperkenalkan Indonesia ke ranah internasional.
Program BIPA bukan sekadar kursus bahasa, melainkan gerakan kultural. Melalui bahasa, orang asing mempelajari lebih dari sekadar kosakata; mereka memahami sejarah, karakter bangsa, nilai gotong royong, dan keberagaman Indonesia. Dalam perspektif soft power, bahasa menjadi instrumen yang menentukan daya tarik sebuah bangsa. Joseph S. Nye Jr., perumus konsep soft power, mengatakan bahwa kekuatan persuasi budaya sering kali lebih efektif daripada kekuatan militer atau ekonomi. Ketika BIPA diajarkan di universitas luar negeri, pusat kebudayaan, atau lembaga diplomatik, Indonesia sebenarnya sedang memperluas pengaruhnya melalui jalur yang halus, elegan, dan berkelanjutan.
Momentum kemerdekaan memberi ruang bagi bangsa untuk kembali bertanya: apakah bahasa kita sudah tampil sebagai kekuatan global? Peringatan kemerdekaan selalu menuntun kita pada sejarah bahwa Bahasa Indonesia telah menjadi simbol persatuan sejak Sumpah Pemuda 1928. Pada titik itu, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi fondasi kebangsaan. Kini, dalam konteks global, spirit itu perlu diperluas agar Bahasa Indonesia berfungsi bukan hanya sebagai bahasa nasional, tetapi juga sebagai bahasa internasional yang diminati.
Minat dunia terhadap BIPA terus meningkat. Data Kemendikbudristek menunjukkan ratusan ribu pembelajar BIPA tersebar di berbagai benua. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya peran Indonesia dalam diplomasi internasional, kekayaan budaya yang menarik perhatian global, serta kolaborasi akademik yang makin luas. Sejalan dengan teori pemerolehan bahasa kedua, Stephen Krashen menjelaskan bahwa motivasi afektif sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa. Semakin menarik budaya suatu bangsa, semakin besar dorongan orang asing mempelajari bahasanya. Ini berarti, semakin kuat Indonesia menampilkan identitas budaya, semakin besar pula daya tarik BIPA di mata dunia.
Momentum kemerdekaan juga menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu mengambil langkah strategis untuk memperkuat posisi BIPA secara global. Pembangunan diplomasi bahasa harus dilakukan melalui kerja sama antarnegara, pembaruan kurikulum berbasis budaya lokal, peningkatan kompetensi pengajar, serta pemanfaatan teknologi digital. Tokoh pendidikan modern, George Siemens, menegaskan bahwa teknologi memungkinkan pengetahuan “menyebar melampaui batas-batas geografis”. Dengan demikian, penggunaan platform digital, aplikasi pembelajaran bahasa, dan media sosial menjadi strategi efektif untuk memperluas jangkauan BIPA di era baru.
Namun penguatan BIPA bukan hanya soal strategi, tetapi juga tentang nilai. Ki Hajar Dewantara pernah menekankan bahwa pendidikan sejatinya harus memerdekakan manusia. Pembelajaran BIPA, dalam konteks ini, memerdekakan para pembelajar asing dari ketidaktahuan tentang Indonesia, dan pada saat yang sama memerdekakan Indonesia dari ketertinggalan dalam diplomasi bahasa. Setiap penutur asing yang belajar Bahasa Indonesia adalah jembatan persahabatan yang menghubungkan Indonesia dengan bangsanya.
Kemerdekaan bukan sekadar peringatan historis; ia adalah komitmen untuk terus membangun bangsa. Dalam semangat itu, BIPA dapat dipandang sebagai warisan kemerdekaan yang dibawa ke tingkat global. Bahasa Indonesia menjadi representasi wajah bangsa—ramah, terbuka, dan penuh warna. Dengan memperkuat BIPA, Indonesia tidak hanya menjaga eksistensi bahasa, tetapi juga memperkenalkan jati diri bangsa kepada dunia.
Seperti dikatakan Pramoedya Ananta Toer, “Selama bangsa itu setia pada bahasanya, bangsa itu tidak akan kehilangan jati dirinya.” Momentum kemerdekaan adalah panggilan agar bangsa ini bukan hanya setia pada bahasanya, tetapi juga percaya bahwa bahasa tersebut layak dipelajari, diajarkan, dan dipromosikan ke seluruh dunia. Melalui BIPA, Indonesia tidak hanya berbicara pada dirinya sendiri, tetapi juga menyapa dunia dengan suara yang lebih lantang dan bermartabat.