Bahasa dalam Perspektif Ahli Komunikasi

Oleh: Zaenal Mutaqin, M.I.Kom. (Sekretaris UPT Bahasa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
Bahasa memiliki kedudukan sentral dalam kajian komunikasi. Bagi para ahli komunikasi, bahasa bukan hanya kumpulan kata dan struktur, melainkan simbol sosial yang membentuk cara manusia berinteraksi, membangun makna, dan menegosiasikan realitas. Dalam perspektif komunikasi, bahasa dipahami sebagai medium utama yang memungkinkan pesan dapat diterima, dipahami, dan ditafsirkan oleh orang lain.
Ahli komunikasi klasik seperti Harold Lasswell merumuskan komunikasi melalui pertanyaan terkenal: “Who says what in which channel to whom with what effect?” Kerangka ini menempatkan bahasa sebagai inti dari unsur “what”, yakni pesan. Tanpa bahasa yang jelas, pesan tidak akan memiliki arah, struktur, maupun efek yang dapat diukur. Bahasa menentukan bagaimana pesan terbentuk dan bagaimana audiens menafsirkannya.
Dalam tradisi komunikasi simbolik, George Herbert Mead menegaskan bahwa “manusia berinteraksi melalui simbol, dan simbol utama itu adalah bahasa.” Dari perspektif ini, bahasa menjadi alat yang membentuk proses sosial. Setiap kata memuat makna, nilai, dan pengalaman kolektif yang memengaruhi cara seseorang merespons pesan. Karena itu, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi medium pembentuk identitas sosial dan relasi antarmanusia.
Dalam teori interaksionisme simbolik, Herbert Blumer menguraikan bahwa makna tidak melekat pada kata, melainkan dihasilkan melalui proses interaksi. Ketika seseorang menggunakan bahasa dalam komunikasi, ia sedang berpartisipasi dalam proses penciptaan makna yang terus berkembang. Bahasa menjadi ruang negosiasi antara pesan yang disampaikan dan pemahaman penerima pesan.
Perspektif komunikasi modern banyak menekankan pentingnya konteks dalam penggunaan bahasa. Ahli antropologi komunikasi Dell Hymes memperkenalkan model SPEAKING yang menjelaskan bahwa efektivitas bahasa bergantung pada situasi, partisipan, tujuan komunikasi, hingga norma interaksi. Ini menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah netral; ia selalu terkait dengan konteks sosial dan budaya yang mengitarinya.
Sementara itu, pakar komunikasi kontemporer Deborah Tannen menyoroti bagaimana perbedaan gaya bahasa bisa menentukan kualitas hubungan interpersonal. Menurutnya, “bahasa adalah tempat di mana hubungan dibangun atau runtuh.” Pilihan kata, intonasi, dan pola percakapan dapat memperkuat kedekatan atau menciptakan jarak antarindividu. Bahasa, dalam hal ini, menjadi instrumen relasional.
Dalam ekosistem digital dan media sosial, para ahli komunikasi memandang bahasa sebagai kekuatan baru dalam membentuk opini publik. Media scholar Marshall McLuhan menyatakan bahwa “the medium is the message”—bahasa yang digunakan dalam medium digital menghasilkan pola komunikasi yang berbeda dari medium tradisional. Emoji, caption singkat, dan simbol digital menjadi bagian dari bahasa baru yang memengaruhi cara generasi modern menyampaikan makna.
Bahasa, dalam perspektif ahli komunikasi, merupakan konstruksi sosial yang selalu berkembang. Ia menjadi alat untuk memahami pikiran, membangun hubungan, menyampaikan ide, mempengaruhi tindakan, dan merepresentasikan dunia. Setiap bentuk komunikasi selalu bergantung pada kemampuan mengelola bahasa dengan tepat—baik dalam konteks interpersonal, organisasi, publik, maupun digital.
Memperkuat pemahaman bahasa berarti memperkuat kualitas komunikasi. Para ahli komunikasi sepakat bahwa kemampuan berbahasa yang baik meningkatkan kejelasan pesan, mengurangi konflik, dan memperbesar peluang tercapainya pemahaman bersama. Karena itu, bahasa bukan hanya pengetahuan linguistik, tetapi kompetensi strategis yang sangat menentukan efektivitas komunikasi manusia.