Dua Sayap Literasi Global: Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam Dinamika Zaman

Dua Sayap Literasi Global: Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam Dinamika Zaman

 

Oleh: Dra. Hj. Darrotul Jannah, M.Ag.

(Kepala UPT Bahasa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)

 

 

Di tengah derasnya arus globalisasi, bahasa tak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan identitas intelektual sebuah bangsa. Bahasa membentuk cara kita memahami realitas, memperluas cakrawala interaksi, serta membuka pintu menuju jejaring pengetahuan dunia. Dalam konteks Indonesia, dua bahasa asing Bahasa Arab dan Bahasa Inggris mengambil peran penting dan saling melengkapi seperti dua sayap yang mengangkat generasi muda terbang lebih tinggi dalam percaturan global. Keduanya hadir sebagai medium ilmu, budaya, diplomasi, dan kolaborasi internasional.

 

Bahasa Arab: Penjaga Tradisi, Penghubung Peradaban

Bahasa Arab memiliki posisi unik karena bukan sekadar bahasa internasional, tetapi juga bahasa agama, budaya, dan ilmu pengetahuan klasik. Dalam sejarah, dunia Islam telah memberikan kontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan, mulai dari kedokteran, astronomi, matematika, hingga filsafat. Semua itu terdokumentasikan dalam bahasa Arab yang kaya morfologi dan kedalaman makna.

Menurut Syekh Ali Jum’ah, mantan Grand Mufti Mesir, “Siapa yang menguasai bahasa Arab, maka ia membuka pintu untuk memahami khazanah peradaban Islam yang menjadi fondasi banyak ilmu modern.” Kutipan ini menegaskan bahwa belajar bahasa Arab bukan sekadar kebutuhan ritual, tetapi investasi intelektual untuk memahami sumber-sumber otoritatif seperti Al-Qur’an, hadis, dan kitab turats.

Di Indonesia, bahasa Arab juga berfungsi sebagai jembatan tradisi pesantren dengan dunia akademik modern. Pesantren-pesantren kini memadukan kajian kitab kuning dengan pendekatan linguistik kontemporer sehingga bahasa Arab menjadi bahasa ilmiah yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian, bahasa Arab bukan hanya bahasa masa lalu, tetapi bahasa yang terus bergerak dan bertransformasi.

 

Bahasa Inggris: Akses Global, Jembatan Inovasi

Sementara itu, Bahasa Inggris menjadi lingua franca yang menghubungkan hampir seluruh sektor kehidupan: pendidikan, teknologi, ekonomi, hingga diplomasi. Data UNESCO menunjukkan bahwa lebih dari 50% publikasi ilmiah dunia ditulis dalam bahasa Inggris. Artinya, tanpa kompetensi bahasa ini, akses terhadap ilmu dan inovasi akan terhambat.

Tokoh linguistik, David Crystal, menyatakan bahwa Bahasa Inggris disebut “global language” bukan karena jumlah penuturnya semata, melainkan karena perannya dalam arus informasi dunia. Ia menegaskan: “English became global not by chance, but because it sits at the heart of international networks.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa penguasaan Bahasa Inggris identik dengan kemampuan berjejaring, berkolaborasi, dan bersaing dalam arena global.

Dalam konteks Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi keunggulan, tetapi kebutuhan dasar. Dunia kerja mengharuskan penguasaan bahasa ini untuk mengikuti dinamika industri, mengakses pelatihan internasional, hingga membangun kolaborasi lintas negara.

 

Sinergi Dua Bahasa: Identitas Lokal dan Kapasitas Global

Akan keliru jika menganggap Bahasa Arab dan Bahasa Inggris berada dalam posisi saling meniadakan. Keduanya justru dapat menjadi sinergi kekuatan linguistik yang memperkaya kemampuan intelektual dan spiritual generasi bangsa.

Bahasa Arab memberikan akar identitas, nilai, dan landasan moral. Bahasa Inggris membuka jendela dunia, teknologi, dan masa depan. Keduanya membentuk generasi yang berakar kuat namun berpikiran luas.

Profesor linguistik, Harold Schiffman, pernah mengatakan bahwa multilingualisme adalah kekuatan, bukan hambatan. Ia menulis, “Language repertoire determines cultural flexibility and intellectual strength.” Ungkapan ini tepat menggambarkan pentingnya menguasai lebih dari satu bahasa asing.

Dalam konteks pendidikan, institusi seperti pesantren modern, madrasah, dan perguruan tinggi Islam kini mulai menerapkan pembelajaran bilingual atau bahkan trilingual. Model seperti ini bukan hanya meningkatkan kompetensi bahasa, tetapi juga mendorong cara berpikir kritis, kemampuan analitis, dan kepercayaan diri dalam komunikasi lintas budaya.

 

Saatnya Indonesia Menguatkan Literasi Kebahasaan

Bahasa Arab dan Bahasa Inggris memiliki logika, sejarah, dan fungsi sosial yang berbeda. Namun keduanya sama penting bagi masa depan Indonesia. Menguasai bahasa Arab berarti menjaga jembatan peradaban. Menguasai bahasa Inggris berarti membangun jembatan masa depan. Dalam era global yang serba cepat, generasi muda Indonesia layak memiliki keduanya.

Di tengah urgensi transformasi digital dan tuntutan persaingan global, investasi terbesar bukanlah pada teknologi semata, tetapi pada kemampuan berbahasa—karena bahasa adalah gerbang pertama menuju pemahaman, inovasi, dan kemajuan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top